Pengemis Tua Menangis
Berteduh dalam gubuk kecil beratap bambu rapuh
Usia tua telah menghampiri jiwa yang dulu muda
Mata sayup tak tahan lagi memandang terik mentari
Tubuhnya bungkuk terdorong akan tenggelamnya senja
Pengemis tua …
Pakaianmu compang-camping dan terkoyakkan dengan keadaan kejam
Tiada terurus lagi tubuh penuh tiupan debu menghampiri
Kau bawa wadah kecil di tangan sebagai pencari nafkah itu
Belas dan kasihan serta selalu menundukkan pandangan
Sebagai modal utama untuk menjalani pekerjaan
Di samping tumpukan sampah busuk langkah sejenak terhenti
Beristirahat menikmati sisa bekas makanan basi yang terbuang
Air minum dalam kaleng bekas tak lagi tersehatkan
Dengan tangan gemetar makanan menghadap mulut kau masukkan
Tubuh tua renta itu hanya pasrah dan tak ada peduli
Kejamnya negeri menggerogoti serta memaksa untuk seperti kerja rodi
Sampai mati kau harus usaha keras sendiri
Atau nyawa melayang dengan cara tak terkasihi
Sungguh kejinya keadilan yang nampak terselimuti
Wahai engkau yang telah menjadi sosok budiman
Berbagai permasalahan nampak diantaranya kelaparan
Tiada cara terbaik kau untuk berhenti mengentaskan
Menutup kedua telinga dengan rapat dari segala keluhan
Ulurkan tangan dengan keringanan yang berisi penuh akan kekuasaan
Segala hak mereka terpenuhi dan tersamakan
Tiada lagi penindasan secara kejam di negeri ini
Demi kesejahteraan dan keutuhan NKRI
Komentar
Posting Komentar